Selasa, 07 Mei 2013

Sejarah Perkembangan Ilmu Tauhid

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU TAUHID
MAKALAH
DisusunGunaMemenuhiTugas
Mata kuliah : Tauhid
DosenPengampu : Ahmad Bisri, M.Ag



Disusunoleh :
Yeni Sulistiyani        (113711017)
Abdul Aziz             (113711019)

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2013

I.    PENDAHULUAN
Arti dari ilmu tauhid sendiri adalah ilmu yang mempelajari tentang sifat-sifat Allah SWT yang wajib diyakini. Dalam sejarah sudah ditunjukkan bahwa pengertian mengenai ilmu tauhid ini sudah lama sekali, yaitu sejak diutusnya Nabi Adam kepada anak cucunya. Secara singkat dijelaskan bahwa sejak permulaan manusia mendiami bumi ini, sejak itu pulalah telah diketahui dan diyakini adanya dan Esanya Allah SWT. Dan jika diselidiki dari sejarah pertumbuhan agama dan perkembangannya, maka sejarah Tauhidpun harus dikembalikan pada kepada asal mula pertumbuhan sejarah, yaitu permulaan manusia mengenal sejarah.
Sepanjang sejarah agama-agama wahyu, Ilmu Tauhid yang digunakan untuk menetapkan dan menerangkan segala apa yang diwahyukan Allah kepada RasulNya tumbuh bersama tumbuhnya agama ini. Para tokoh agama berusaha memelihara dan meneguhkan agama dengan berbagai macam cara dan dalil yang mampu mereka ketengahkan. Ada yang kuat, ada yang sempit, ada yang luas, sesuai dengan masa dan tempat serta hal-hal yang mempengaruhi perkembangan agama.
Perkembangan Ilmu Tauhid mengalami beberapa tahapan sesuai dengan sesuai dengan perkembangan Islam, yang dimulai pada masa Rasulullah SAW, masa Khullafaurrasyidin, masa Bani Umayyah, masa Bani Abbasyiah dan masa sesudah kemunduran Bani Abbasyiah.

II.    RUMUSAN MASALAH
A.    Bagaimana sejarah perkembangan dari tauhid ?
B.    Bagaimana sejarah perkembangan ilmu tauhid pada masa Nabi Muhammad SAW?
C.    Bagaimana sejarah perkembangan ilmu tauhid pada masa Khulafaurrasydin?
D.    Bagaimana sejarah perkembangan ilmu tauhid pada Masa Bani Umayyah?
E.    Bagaimana sejarah perkembangan ilmu tauhid pada Masa Bani Abbasyah dan pasca Bani Abbasiyah?




III.    PEMBAHASAN

A.    Sejarah perkembangan Tauhid
Nabi Adam a.s adalah nenek moyang manusia yang pertama. Sejarah tentang Tauhid dimulai sejak diutusnya Nabi Adam a.s oleh Allah untuk menganjarkan  ketauhidan yang murni  kepada anak dan cucunya. Ajaran Adam tentang Tauhid yaitu tentang KeEsaan Allah SWT. Semenjak itulah manusia telah mengetahui dan meyakinkan tentang adanya keEsaan Allah sebagai sang Pencipta alam semesta ini. Umat manusia yang telah dibuka hatinya oleh Allah menerima hakikat hidup itu, menerima dan mematuhi ajaran Nabi Adam. Akan tetapi setelah Nabi Adam wafat, umat pun kehilangan pembimbing. Mereka pun mulai menyimpang dari ajaran semula dan meninggalkan sedikit demi sedikit ajarannya sehingga tersesat dari jalan lurus dan  kehidupan mereka  pun menjadi kacau. Untuk itu Allah mengutus para Nabi dan Rosul untuk memberikan petunjuk kepada umat manusia.
Nabi Nuh a.s.,diutus sebagai pemimpin dan pengatur manusia yang kacau porak poranda setelah ditinggalkan oleh Nabi Adam. Sebelum Nabi Nuh a.s pun telah diutus Nabi-Nabi yang ditugaskan untuk meneruskan ajaran Nabi Adam a.s. Setelah Nabi Nuh wafat, manusia kembali kehilangan pemimpin dan pengaturnya dan menjadi kacau balau sampai diutusnya Nabi Ibrahim Oleh Allah SWT . Nabi Ibrahim selain mengajarkan dan memimpin ketauhidan terhadap Allah juga beliaulah yang mula-mula membawa dan mengajarkan syari’at.
Periode antara Nabi Ibrahim dan Nabi Muhammad masih banyak lagi Nabi-Nabi yang diutus Allah untuk menjaga ketauhidan dikalangan umat manusia, agar tidak terkikis dari sanubari manusia. Diantara Nabi-Nabi itu ialah: Nabi Luth a.s, Nabi Ismail a.s, Nabi Ishaq a.s, Nabi Yakub a.s, Nabi Yusuf  a.s, Nabi Musa a.s, Nabi Harun a.s, Nabi Yusa’ a.s, Nabi Daud a.s, Nabi Sulaiman a.s, Nabi Hud a.s, Nabi Shaleh a.s, Nabi Syu’aib a.s, Nabi Zakaria a.s, Nabi Yahya a.s, Nabi Ayyub a.s, Nabi Zulkifli a.s, Nabi Isa a.s dan Nabi Muhammad SAW.
Diantara Nabi-Nabi yang dua puluh lima tersebut ada lima orang Nabi yang mendapat julukan Ulul Azmi yaitu: Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa , Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW. Semua Nabi-Nabi itu mengajarkan kepada umatnya untuk mentauhidkan dan meyakini bahwa yang menjadikan alam semesta ini Esa yaitu Allah SWT.
Nabi Musa a.s diutus oleh Allah untuk mengajarkan ketauhidan. Allah menurunkan  kitab Taurat secara sekaligus kepada Nabi Musa a.s. Taurat itu mengandung syariat atau peraturan-peraturan Allah yang diturunkan kepada Nabi Musa untuk diamalkan dan berpegang teguh padanya. Syariat itu telah dijalankan oleh umat Nabi Musa  sebagai petunjuk dan pedoman hidup mereka sewaktu Nabi Musa masih hidup. Akan tetapi setelah Nabi Musa wafat  bani Israil atau orang Yahudi lama kelamaan menyimpang dari kitab Taurat sehingga menyebab kerusakan. Pada masa bani Israil ditinggalkan Nabi Musa, timbul perselisihan dan perubahan-perubahan atau penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh sebagian  mereka. Nabi Isa pun diutus oleh Allah sebagai Pendamai dan mengembalikan pada ajaran agama yang semula, yaitu tentang ke Esaan Allah.
Nabi Isa mengajaran ketauhidan dengan berdasarkan pada kitab yang telah diturunkan oleh Allah yaitu kitab Injil. Di dalam kitab Injil terkandung: nasihat-nasihat,petunjuk-petunjuk terhadap orang yang mengimaninya. Nabi Isa secara terus menerus menyiarkan agama tauhid serta mendamaikan umatnya walaupun mendapat rintangan-rintangan dari bani Israil. Dengan kebencian orang-orang Yahudi, mereka berniat untuk membunuh Nabi Isa. Akan tetapi Allah melindungi Nabi Isa dengan menyamarkan orang yahudi . Orang Yahudi itu menangkap salah seorang dari mereka yang telah diubah wajahnya mirip dengan Nabi Isa. Nabi Isa pun diangkat oleh Allah.
Setelah ditinggalkan Nabi Isa (menurut kepercayaan orang-orang Nasrani), sedikit demi sedikit mulai berubah ketauhidannya sehingga umat menyimpang dari ajaran semula dan terlepas dari dasar-dasar ketauhidan yang murni. Adapun perubahan yang terjadi sebagai berikut:
1.    Segolongan orang Nasrani yang diketahui oleh Paulus sebagai kepala agama di Intokia(syiria) memegang sungguh-sungguh ketauhidan yang murni. Mereka berpendapat bahwa Isa itu seorang hamba dan pesuruh Allah sebagai juga Rasul yang lain.
2.    Golongan Arius, yaitu golongan Nasrani pengikut aliaran “Arius” seorang pendeta di Iskandariah. Ia masih berpegang teguh pada ketauhidan yang sebenarnya. Ia berpendapat bahwa Isa hamba Allah. Akan tetapi ia menambahi keterangan bahwa Isa sebagai “kalimah Allah” dari situlah mulai ada bayangan yang mengarahkan bahwa Isa itu adalah Allah.
3.    Golongan Parpani. Golongan yang ini berpendapat bahwa Isa dan ibunya dalah Tuhan. Demikian inilah keadaan Nasrani yang datang kemudian. Mereka mengangap bahwa Tuhan itu menjadi tiga. Dan hampir semua orang Nasrani mempercayai bahwa Tuhan itu terdiri dari 3 oknum. Ketiga oknum itu sebernya satu juga yaitu: Bapa, anak dan Ruhul Kudus. 3 adalah 1 dan 1 adalah 3.

B.    Perkembangan ilmu tauhid pada masa Nabi  Muhammad SAW
Masa Rasulullah SAW adalah masa menyusun peraturan-peraturan, menetapkan pokok-pokok akidah, menyantukan umat islam dan membangun kedaulatan islam. Masa ini para muslim kembali kepada Rasul sendiri untuk mengetahui dasar-dasar agama dan hukum-hukum syari’ah. Mereka disinari oleh nur wahyu dan petunjuk-petunjuk Al-qur’an. Rasulullah menjauhkan para umat dari segala hal yang menimbulkan perpecahan dan perbedaan pendapat.tidak dapat diragukan lagi bahwa perdebatan dalam masalah akidah adalah sebab utama perpecahan dan perbedaan pendapat.
Masing-masing pihak senantiasa berusaha mempertahankan kebenaran pendapatnya dengan dalil-dalil, sebagaimana telah terjadi dalam agama-agama sebelum Islam. Rasulullah mengajak kaum muslimin untuk mentaati Allah swt dan RasulNya serta menghindari dari perpecahan yang menyebabkan timbulnya kelemahan dalam segala bidang sehingga menimbulkan kekacauan.  Seperti firman Allah :
وَاَطِيْعُوْااللَّهَ وَرَسُوْلَهُ وَلاَتَنَازَعُوْافَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْ اِنّ اللّهَ مَعَ الصَّبِرِيْنَِ




Artinya:“ Dan taatilah Allah dan RasulNya dan janganlah kamu saling berbantah yang menyebabkan kamu gagal dan hilanglah kekuatanmu serta bersabarlah, sesungguhnya Allah berada bersama-sama orang yang sabar.”(QS.Al-Anfal : 46)

C.    Perkembangan Ilmu Tauhid pada masa Khulafaurrasydin
Setelah Rosulullah SAW wafat dalam masa khalifah pertama dan kedua, umat islam tidak sempat membahas dasar-dasar akidah, karena mereka sibuk menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan kesatuan dan persatuan umat. Tidak pernah terjadi perbedaan dalam bidang akidah. Mereka membaca dan memahamkan Alqur’an tanpa mencari takwil bagi ayat-ayat yang mereka baca. Mereka mengikuti perintah Alqur’an dan mereka menjahui larangannya. Mereka mensifatkan Allah dengan apa yang Allah sifatkan sendiri. Dan mereka mensucikan Allah dari sifat-sifat yang tidak layak bagi keagungan Allah. Apabila mereka menghadapi ayat-ayat yang mutasyabihat mereka mengimaninya dengan menyerahkan pentakwilannya kepada Allah sendiri.
    Dimasa khalifah ketiga akibat terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah usman umat islam menjadi terpecah menjadi beberapa golongan dan partai, barulah dari masing-masing partai dan golongan-golongan itu berusaha mempertahankan pendiriannya dengan perkataan, usaha dan terbukalah pintu takwil bagi nash-nash alqur’an dan terjadilah pembuatan riwayat-riwayat palsu. Karena itu pembahasan mengenai akidah mulai subur dan berkembang selangkah demi selangkah dan kian kian membesar dan meluas.

D.    Perkembangan Ilmu Tauhid pada Masa Bani Umayyah
Dalam zaman Bani Ummayah ini situasi dan kondisi berubah. Selain karena pertikaian partai dan golongan bertambah ramai, juga karena adanya pemeluk agama yang lain masuk kedalam islam yang jiwanya tetap dipengaruhi oleh unsur-unsur kepercayaan yang pernah mereka anut. Kebebasan berbicara mendorong pula timbulnya kebebasan mengemukakan argumentasi masing-masing.
Masalah qadar yang dulunya dibatasi pembatasannya mulai diungkapkan kembali secara bebas. Maka timbulah golongan Qadariyah yang dipelopori oleh Ma’bad Al Juhaimi (wafat tahun 80 H ) yang mengemukakan tentang kebebasan berbuat dan memilih, tanpa campur tangan tuhan dalam perbuatan manusia. Dari pernyataan ini munculah golongan Jabariyah yang dipelopori oleh Jaham bin Safwan sebagai bantahan yang mengemukakan akidah yang dianutnya bahwa manusia itu serba terpaksa ( majbur) dalam segala tindakannya.
Pada akhir abad pertama hijriyah muncul golongan khawarij membentuk suatu madzhab sendiri yang menonjolkan pendapat: orang yang mengerjakan dosa besar itu kafir. Sedangkan Hasan Al Bisri (wafat tahun 110 H), berpendapat bahwa orang yang mengerjakan dosa besar itu adalah fasiq, tidak keluar dari lingkaran mukmin (tidak kafir).
Kemudian tampilah Washil bin Atho’ murid Hasan Al bisri, membantah pendapat gurunya dengan mengatakan: orang yang mengerjakan dosa besar itu berada diantara dua martabat, karena Washil bin Atho’ mengasingkan diri dari majlis gurunya Hasan Al bisri atau dari pendapat umum, maka dinamakanlah gologannya dengan sebutan Al-Mu’tazilah, golongan orang yang mengasingkan diri.
Pada akhir masa ini, Washil bin Atho’ telah dapat menyusun dasar-dasar ilmunya bagi madzhab Mu’tazilah dan jalan-jalan mengajak masyarakat mengikuti ajarannya. Dia melaksanakan misinya ke seluruh pelosok dengan segenap tenaga dan kecakapan hingga sampailah pengembangannya ke Khurasan disebelah timur ke Maroko sebelah barat, ke Armenia sebelah utara dan ke Yaman sebelah selatan.
Menurut keterangan seorang ahli tarikh, al-Maqrizi (766-845). Washil bin Atho’telah menyusun kitab tauhid yang berjudul “Kitabut-Tauhid”, “Kitabul Manzilatibainal Manzilatain”, “Kitab al futaya”.  Dengan demikian masa ini adalah masa dimulainya usaha menyusun kitab dalam ilmu kalam, sekalipun kitab-kitab itu telah dibawa oleh arus zaman dan tidak ada yang sampai ketangan kita. Demikianlah situasi ini yang jauh berbeda dengan zaman khulafaurrosyidin dan malahan kian jauh dibandingkan dengan zaman nabi Muhammad SAW.

E.    Perkembangan Ilmu Tauhid pada Masa Bani Abbasyah dan pasca Bani Abbasiyah
•    Pada masa Bani Abbasiyah
Dalam masa bani Abbasiyah hubungan pergaulan antara bangsa ajam dengan bangsa arab semakin erat dan berkembanglah ilmu dan kebudayaan. Salah satu ciri dari zaman bani abbas ialah dikembangkannya buku-buku filsafat Yunani. Cendekiawan islam mulai tertarik mempelajari filsafat Yunani dan mencoba menerapkan metode-metodenya dalam ilmu kalam. Sebagai golongan yang banyak memakai metode filsafat adalah Mu’tazilah dalam usahanya mempertahankan agama. Dengan jalan ini, maka ilmu kalam yang semakin tumbuh diperkuat pula dengan ilmu filsafat, sehingga mempunyai warna baru. Pada masa ini, ahli-ahli ilmu kalam mengembangkan keahlian mereka dengan menulis sejumlah kitab. Amr bin Ubaid al-Mu’tazili seorang ulama Mu’tazilah mengarang Arraddu alal Qadariyah yang berisi tentang bantahan terhadap faham Qadariyah.
Hisyam bin al-Hakam asy-Syi’i seorang ulama’ syiah yang terkenal menulis sebuah kitab yang menolak faham Mu’tazilah. Sementara itu Abu Hanifah menyusun kitab yang berjudul “Alalim walmuta’alim” dan kitab “Fiqhul Akbar” yang mempertahankan akidah ahli sunnah. Asyafi’i juga mengarang kitab “Fiqhul Akbar” yang berhubungan dengan ilmu kalam. Karena golongan Mu’tazilah cukup ulet dalam mengembangkan pendapatnya maka banyak khalifah bani abbas yang mengikutinya, diantaranya Al Ma’mun, Al Mu’tashim, dan Al Watsiq. Pada masa itulah Mu’tazilah mencapai puncak kejayaannya. Beberapa waktu kemudian, tiba pula saat kemunduran Mu’tazilah ketika lahirnya Abu Hasan Al Asyary (260-324 H) yang menjadi pelopor madzhab ahlusunnah waljamaah. Pendapatnya menempuh jalan tengah antara madzhab salaf dan madzhab penentangnya. Dalam mengemukakan keterangan beliau mengumpulkan dalil naqli dan dalil aqli bagi pendapat-pandapat dalam menolak faham Mu’tazilah.
Usaha Abu hasan Al Asyary dibantu dan dikuatkan oleh Abu Mansyur Al Maturidi. Maka denga usaha dua tokoh ini, madzhab Mu’tazilah menjadi lemah yang berangsur lenyap dari anutan masyarakat. Pengikut-pengikut Asyary meneruskan teori-teori yang telah digariskan oleh Al Asyary yaitu mengumpulkan antara dalil-dalil aqli dan dalil-dalil naqli. Pengikut Al Asyary memandang pula bahwa dalil-dalil yang dibuat untuk muqoddamah-muqoddamah aqliyah seperti teori jauhar dan aradh, merupakan bagian dari iman. Inilah jalan yang ditempuh para  pengikut Asyariyah seperti Abu Bakar Al Baqilani, Al-Isfarayini, dan imamul Haramain al-juwaini. Kemudian datanglah keompok pengikut al asyary yang mendalami ilmu mantiq, lalu menetapkan bahwa batalnya dalil itu belum tentu batalnya madlul, madlul itu mungkin ditetapkan dengan dalil-dalil yang lain. Itulah jalan yang ditempuh ulama muta’akhirin. Diantara yang menempuh jalan ini adalah Al Ghozali dan Ar Razy.
•    Pasca Bani Abbasiyah
Sesudah masa Bani Abbas datanglah pengikut al Asyary yang terlalu jauh menceburkan diri nya dalam falsafah dan mencampurkan mantiq dll, kemudian mencampurkan semuanya itu dengan ilmu kalam sebagaimana yang dlakukan oleh al Baidhowi dalam kitabnya  Ath-Thawali dan Abuddin al-Ijy dalam kitab Al-Mawaqif
Madzhab al-asyary berkembang pesat ke semua pelosok hingga tidak ada lagi madzhab yang menyalahinya selain madzhab hambaliyah yang tetap bertahan dalam madzhab salaf, yaitu beriman sebagaimana disebut dalam Alqur’an dan Al-Hadist tanpa mentakwilkan  ayat-ayat dan hadist-hadist itu. Pada permulaan abad kedelapan hijriyah lahirlah di Damaskus seorang ulama’ besar bernama Taqqiyuddin ibnu Taimiyah (661-728 H) yang membela pendirian salaf (sahabat, tabi’in dan imam-imam mujtahiddin) dan membantah pendirian-pendirian Asy’ariyah dan golongan lain yang dipandangnya banyak membuat bid’ah dalam akidah dan ibadah.
Pendirian dari ibnu Taimiyah ini sudah tentu banyak menimbulkan pro dan kontra. Jalan yang ditempuh ibnu Taimiyah ini dilanjutkan oleh seorang muridnya yang terkemuka, yaitu ibnu Qayyimil Jauziyah. Setelah berlalu masa ini timbulah suatu masa kemunduran dalam ilmu kalam karena daya kreatif dalam mempelajari ilmu ini dengan bersama. penulis-penulis kebanyakan hanya mengulas makna-makna lafadz dan ibarat dari peninggalan kitab-kitab lama yang menjelma dalam kitab syarah. Menjelah abad ke 20 M, barulah tampil kembali gerakan ilmiah dalam islam yang membangun kembali pemikiran islam yang disponsori oleh Jamaluddin Al-Afghani (1254-1315 H), Muhammad Abduh (1265-1323), as-Sayyid Rasyid Ridla(1282-1354 H). Ketiga ulama ini dipandang amat besar jasanya dalam membangun kembali ilmu-ilmu agama dan timbulah jiwa baru dengan memerangi taklid buta yang merantai dunia islam pada waktu itu.
Pengaruh kebangkitan akidah islam dalam periode modern ini ternyata besar sekali peranannya yang ditandai dengan organisasi-organisasi islam international, termasuk KTT negara-negara islam yang anggota-anggotanya terdiri dari negara-negara islam. Umat islam kian berangsur kembali meraih mahkota kemuliannya yang pernah luput dari tangannya dan menjadilah mereka umat yag disegani dan diperhitungkan umat yang lainnya.


IV.    KESIMPULAN
•    Sejarah tentang Tauhid dimulai sejak diutusnya Nabi Adam a.s oleh Allah untuk menganjarkan  ketauhidan yang murni  kepada anak dan cucunya.
•    Pada masa Rasulullah SAW perkembangan ilmu tauhid masih dalam menyusun peraturan-peraturan, menetapkan pokok-pokok akidah, menyantukan umat islam dan membangun kedaulatan islam.
•    Masa khalifah pertama dan kedua, umat islam tidak sempat membahas dasar-dasar akidah, karena mereka sibuk menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan kesatuan dan persatuan umat. Dimasa khalifah ketiga akibat terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah usman umat islam menjadi terpecah menjadi beberapa golongan dan partai.
•    Pada zaman Bani Ummayah Washil bin Atho’ telah dapat menyusun dasar-dasar ilmunya bagi madzhab Mu’tazilah dan mengajak masyarakat mengikuti ajarannya. Dengan demikian masa ini adalah masa dimulainya usaha menyusun kitab dalam ilmu kalam.
•    Zaman Bani Abbas Cendekiawan islam mulai tertarik mempelajari filsafat Yunani dan mencoba menerapkan metode-metodenya dalam ilmu kalam. Dengan jalan ini, maka ilmu kalam yang semakin tumbuh diperkuat pula dengan ilmu filsafat, sehingga mempunyai warna baru.

V.    PENUTUP
Demikianlah makalah ini ditulis dengan segala keterbatasan yang ada. Penulis sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangannya, untuk itu kritik dan saran dari manapun datangnya selalu penulis terima dengan senang hati demi perbaikan kedepan. Akhirnya semoga pemikiran yang ada pada tulisan ini bias menjadi kontribusi pemikiran bagi pengembangan pendidikan di Indonesia.

























DAFTAR PUSTAKA
Ash-Shiddieqy, Teungku Muhammad Hasbi. 2011. Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid / Kalam, Semarang: Pustaka Rizki Putra.
Thahir, Thaib.1986.ilmu Kalam.Jakarta:Widjaya Jakarta
Ya’qub Hamzah.2001.Ilmu Ma’rifah.Jakarta:CV.PedomanIlmuJaya.
Halili,Rofiqi,Sholichah,Nur Hidayatus,dkk,http://ilmu-tauhid-makalah-diajukan-untuk.html, Diakses tanggal 17 April 2013 pukul 13.00.
http://almasakbar45.blogspot.com/2011/01/sejarah-perkembangan-tauhid.html  Diakses pada 22-04-2013 pukul 22:01 wib.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Poskan Komentar

http://4.bp.blogspot.com/-7B72IuUfGyU/Trndh8Fl_eI/AAAAAAAAABo/1TUl1jRCgf8/s1600/alat-pengolahan-kimia-pertambangan-0.jpg
Masuk